Kejadian kematian ibu dan bayi yang terbanyak
terjadi pada saat persalinan, pasca persalinan, dan hari-hari pertama kehidupan
bayi masih menjadi tragedi yang marak di negeri ini. Untuk menurunkan angka
kematian ibu dan bayi baru lahir diperlukan upaya dan inovasi baru, tidak bisa
dengan cara-cara biasa.
Hasil
Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012 menunjukkan masih tingginya angka kematian ibu
saat melahirkan, yaitu sebesar 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada lima
tahun yang lalu lembaga survey yang sama juga merilis angka kematian ibu pada
saat melahirkan yaitu sebesar 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Dari hasil
survey ini dapat disimpulkan bahwa terdapat kenaikan angka kematian ibu. Ironi
ini sangat bertentangan dengan target Millenium Development Goals (MDG) 2015 yang
ingin menekan angka kematian ibu sebesar 102 per 100 ribu kelahiran hidup.
Dibutuhkan usaha yang besar dan strategi yang efektif untuk mencapai target
tersebut.
Penyebab
angka kematian ibu berdasarkan data laporan rutin KIA 2010 adalah sebesar
228.187 akibat perdarahan dan 186.612 karena mengalami eklampsia. Kedua
penyebab utama tersebut dapat dicegah apabila persalinan dibantu oleh tenaga
kesehatan di fasilitas kesehatan. Selain itu pengetahuan ibu tentang persiapan
sebelum kehamilan (pra-konsepsi) dan saat masa kehamilan harus ditingkatkan
untuk mencegah terjadinya berat bayi lahir rendah yang juga menjadi salah satu
faktor bayi tidak dapat bertahan hidup pada masa-masa awal kehidupannya.
Salah
satu upaya pembekalan pada calon ibu untuk mengurangi angka kematian ibu dan
bayi adalah dengan memberikan pengetahuan tentang asupan gizi yang baik guna
menunjang kebutuhan gizi selama masa kehamilan. Saat kehamilan, asupan gizi ibu
menjadi salah satu hal yang sangat menentukan bagi kesehatan bayi dan ibu.
Namun sering kali calon ibu tidak menyadari akan kehamilannya di bulan-bulan
pertama masa mengandung. Padahal pada satu bulan pertama kehamilan terjadi
proses pertumbuhan janin yang sangat pesat serta terjadi pembentukan otak dan
organ-organ penting lain pada janin. Apabila ibu tidak menyadari bahwa dia
sedang hamil muda, maka dapat terjadi kemungkinan kekurangan asupan gizi yang
dibutuhkan pada masa-masa awal pembentukan organ vital janin. Selain itu asupan
gizi yang kurang dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah dan
berpengaruh pada ketahanan bayi dalam menjalani masa-masa awal kehidupannya.
Dari
pemaparan tersebut dapat diketahui bahwa perlu adanya pembekalan dini tentang
gizi pra-konsepsi pada wanita di usia produktif. Gizi pra-konsepsi diperlukan
untuk mempersiapkan cadangan gizi yang
diperlukan saat masa-masa awal kehamilan. Apabila pada masa pra-konsepsi calon
ibu sudah memiliki cadangan gizi yang baik dalam tubuh maka saat awal masa
kehamilan, janin tidak mengalami hambatan dalam pertumbuhannya karena sudah
ditunjang dengan cadangan asupan gizi yang baik dari calon ibu.
Banyaknya
fenomena nikah muda pada dewasa ini mendorong pembekalan tentang pengetahuan
gizi pra-konsepsi sangat penting dilakukan sedini mungkin pada wanita usia
produktif. Hal ini dapat disampaikan melalui kader-kader posyandu, petugas
puskesmas atau bahkan melalui karang taruna kepada para wanita. Sikap
kooperatif dari masyarakat sekitar juga sangat membantu berjalannya program ini
dengan cara tidak menganggap tabu hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan
masa pra-konsepsi. Tak jarang masyarakat masih menganggap tabu mengenai
persoalan masa pra-konsepsi. Padahal disatu sisi, Indonesia sedang menghadapi
masalah yang sangat masif berhubungan dengan angka kematian ibu dan bayi.
Diharapkan dengan adanya pembekalan pengetahuan tentang gizi pra-konsepsi dapat
membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi sehingga target Millenium
Development Goals (MDG) 2015 dapat tercapai.
Hahahahahaha tulisan itu hasil dari tugas dasar komunikasi tentang teknik menulis. ya maaf kalo tulisannya masi berantakan dan ga runtut maklum penulis amatiran hehehe ._.v Semoga tulisan ini bermanfaat ^^

0 comments:
Post a Comment